Manwaref Aweko Burung Kakatua
Photo by Dieter Pelz |
ARTIKEL ini secara singkat membahas tentang burung Kakatua, burung fenomenal dalam kehidupan orang Biak-Numfor. Yang menjadi topik utama adalah menyangkut nama burung ini dalam bahasa Biak. Nama burung telah tercatat oleh orang-orang Eropa yang mengunjungi Papua pada tahun 1800-an. Burung ini menjadi salah satu burung yang diperdagangkan sejak zaman dulu dan sampai saat inipun masih diperdagangkan yang membuat habitatnya mulai menyusup.
Pada abad ke-21 ini, banyak generasi muda mulai melupakan bahasa daerah. Ini berpengaruh juga terhadap penamaan-penamaan burung-burung dalam bahasa Daerah, khususnya bahasa Biak. Melaui situs ini, upaya dilakukan untuk mengingat dan menulis namanya agar tidak hilang dan bisa dibaca semua orang khusus generasi muda mudi orang Biak, maupun siapa saja yang ingin mempelajari bahasa Biak, khusus nama-nama burung dalam bahasa Biak.
MANWAREF
Dalam bahasa Biak Numfor burung ini bernama Manwaref yang disebut juga dengan nama Aweko. Di pulau Numfor masyarakat disana cenderung memanggilnya Aweko. Ada sejenisnya lagi yang biasanya disebut Mankaras (Manggaras, Manggeras). Dalam kehidupan orang Papua, khususnya orang Biak Numfor, burung ini sangat terkenal karena sering ditemui di hutan-hutan. Kelebihan burung ini juga adalah jika dilatih burung ini bisa berbicara selayaknya manusia. Dalam bahasa Melayu Papua, orang biasanya menyebutnya burung Yakop.
Pada masa lalu, manbri-manbri Biak, menggunakan bulu burung Kakatua sebagai perhiasan keperkasaan mereka. Yakni digunakan untuk menandakan jumlah musuh atau kepala yang telah di bunuh. Misionaris Ottow, menyaksikan sendiri bagaimana para Manbri-manbri mengenakan bulu putih pada rambut mereka. Sewaktu berada pada suatu acara pada tahun 1850-an, iya mengamati orang-orang Doreri, Manokwari dari kaum lelakinya memakai bulu putih.
Misionaris Ottow mengatakan "Saya melihat orang-orang ini waktu itu, anda dapat membayangkannya sendiri. Saya duduk di tengah-tengah para pembunuh, yang malahan merasa bangga karena telah membunuh itu. Ya, hanya mereka itulah yang dihormati, seolah-olah mereka itu orang-orang bangsawan, sedangkan yang lain dianggap remeh. Sungguh saya tak percaya bahwa di sini terdapat demikian banyaknya pembunuh, karena banyak dari mereka itu memakai 6, 7, 8 sampai 12 bulu di rambutnya. Dari jumlah bulu ini dapat diperkirakan bahwa kira-kira seperenam dari orang Irian mati terbunuh. Saya pun mengeluh, agar Tuhan yang rahim berkenan mengasihani orang-orang ini, membuka hati mereka agar mereka belajar merasa malu atas perbuatan-perbuatan yang mengerikan itu dan mau bertobat." (Kamma I, 1981:102)
Burung ini hadir dalam ciptaan lagu-lagu bahasa Biak, seperti dalam lagu "Osof fa Ipyum" karya Sam Kapisa. Burung Manwaref masih ada di pulau Biak, Supiori dan pulau Numfor, maupun daratan tanah besar Papua.
Photo by Photoholgic |
Kakatua (suku Cacatuidae) adalah jenis burung hias yang memiliki bulu yang indah dengan lengkingan suara yang cukup nyaring. Spesies ini termasuk salah satu burung dengan kecerdasan yang cukup bagus, sehingga sering digunakan untuk acara-acara hiburan di kebun binatang atau tempat hiburan lainnya. (Wikipedia)
Di Indonesia, burung kakatua dijadikan nama lagu anak-anak. Kakatua juga dapat dijadikan peliharaan Kakatua dikenal sebagai burung yang setia dan bila pemiliknya terancam kakatua akan melindungi pemiliknya. Beberapa orang sering memelihara Kakatua sejak masih kecil untuk diajari berbicara penelitian menunjukan bila terlatih sejak kecil Kakatua akan dapat berpikir seperti manusia. (Wikipedia)
Suku-suku di teluk Saireri juga menyebut burung ini dengan nama-nama yang mirip dengan bahasa Biak. Orang Ansus (Yapen), orang Serui-Laut menyebutnya Kara (karai, karasibido) yang mirip Karas (Mankaras). Dalam bahasa Mor disebutnya Warar; orang Waropen menyebutnya Taware yang mirip Manwaref dalam bahasa Biak (Lihat buku Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1961)
Posting Komentar untuk "Manwaref Aweko Burung Kakatua"