Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manggumbon Burung Cenderawasih Raja

    

burung cenderawasih

MANKUMBON (Paradisea regia)

BAHASA BIAK menyebut Cenderawasih raja MANKUMBON (MANGGUMBON) dalam bahasa ilmiahnya Paradisea regia atau disebut juga Cicinnurus regius. Mankumbon terdiri dari kata Man:burung, kum:petik, bon: buah. Man be kum bon yang berarti burung pemetik buah. Burung ini tersebar di daratan rendah tanah Papua, dan pulau-pulau Papua. 

Orang Biak mengenal beberapa jenis burung Cenderawasih menurut bahasa mereka. Dan penamaan ini sering disebut berdasarkan kebiasaan burung tersebut, karakter, warna, suara, dan berbagai hal yang berkaitan dengan burung itu. Beberapa jenis burung Cenderawasih yang dikenal orang Biak seperti Manbefor (Mambefor) atau biasa disebut juga Manbesak (Mambesak), Manpisasio (Mampisasyo) yang disebut juga Moibur. Ada juga Manissai atau yang disebut Cenderawasih hitam. 

Mankumbon atau burung Cenderawasih Raja ini, sejak lama telah diperdagangkan juga oleh pedagang-pedagang dari luar dengan penduduk asli Papua. Perdagangan burung Cenderawasih ini tidak hanya sebatas pada kawasan nusantara, melainkan sampai di Eropa. Memang, burung cenderawasih berjenis Manbefor (Manbesak) adalah jenis burung cenderawasih yang paling terkenal karena bulunya. Dan Manbesak juga digunakan sebagai nama jalan, nama grup musik tradisional dan banyak dipakai di berbagai media. 

Seorang Naturalis Jerman bernama Herman Von Rosenberg (1817-1888), ia menerbitkan artikel maupun buku tentang geografi, zoologi, linguistik dan etnografi di kepulauan Nusantara. Salah satu bukunya yang berjudul, Reistochten Naar De Geelvinkbaai of Nieuw-Guinea, In de Jaren 1869 En 1870, menjelaskan tentang berbagai jenis-jenis burung khususnya dalam hal nama-nama lokal bahasa orang Papua. 

Sehubungan dengan Cenderawasih raja dan beberapa jenis burung lainnya dalam bahasa lokal di Papua, Herman Von Rosenberg menulis, "Drie rivieren, de Mamoeia, Kassoeni en Koerau monden op dit deel der kust van Nieuw-Guinea. De twee eerstgenoemde kunnen een uur ver met kano's bevaren worden; hare bovenoevers zijn bewoond. De laatstgenoemde rivier wordt daarentegen nooit bevaren uit vrees voor de vele krokodillen, die men er in aantreft. Middelmatig opgaand bosch bedekt heinde en verre het vlakke, doch spoedig tot lage heuvelruggen oprijzende land. In dit uitgestrekte woud, waar de van de rivieren verwijderde streken zelden door meuschen bezocht worden, leven in ongestoorde rust de Mankoembon (Paradisea regia), Mambefoor (Paradisea Papuana), Kalemli (Paradisea magmfica), Issa (Epimachus magnus), Mambeba (Casuarius uniappendiculatus) en andere fraaie dieren meer."

Dalam tulisannya diatas ada sebutan "Mankoembon" dalam penulisan ejaan bahasa Belanda, ejaan bahasa Indonesia Mankumbon. Burung ini rupanya telah terkenal sampai di Eropa sejak pertengahan tahun 1500-an, sebab dalam literatur bahasa Portugis-Spanyol 1500-an, burung ini telah dilukis bersamaan dengan burung cenderawasih jenis lainnya. Dan sejak tahun 1600-an sampai pada tahun 1800-an, burung ini bisa ditemukan dalam berbagai karya orang-orang Eropa. 

Burung ini memiliki kelebihan tertentu yang menarik perhatian betinanya, misalnya burung Cenderawasih Raja jantan akan memainkan dance atau tarian yang istimewa yakni menggoyang-goyangkan ekornya (purai) serta mempertontonkan keindahan bulunya yang mirip sebuah bola serta menonjolkan gaya akrobatik yang menawan. Burung ini akan melakukan apa saja untuk menonjol, supaya disukai sang betina pujaan hatinya.

Mankumbon merupakan karya Sang Pencipta yang luar biasa. Keanggunan, kemolekan, tarian yang menggemaskan, menjadikan burung seperti sang Raja yang memiliki kuasa. Burung ini memanjakan mata kita. Orang Biak-Numfor telah lama mengenal burung ini dan mereka memberikan namanya sesuai karakter dan kehidupan burung tersebut. Burung yang terkenal ini memang burung yang luar biasa dari sekian banyaknya jenis burung Cenderawasih lainnya. 

Posting Komentar untuk "Manggumbon Burung Cenderawasih Raja"