Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manesu Burung Pipit

Manesu, Manisu, cuit, pipit

  


MANESU

Burung Pipit atau di pulau Biak bahasa Melayu-Papuanya disebut burung Cuit merupakan burung yang sering dijumpai sehari-hari. Dalam bahasa Biak, burung ini memiliki beberapa nama yang terbagi lagi ke dalam beberapa dialek bahasa Biak. 

Orang Biak Numfor, biasa menyebutnya dengan nama atau sebutan MANESU, MANISU, MANGINSU, MANGGARPIS dalam bahasa ilmiahnya disebut Pouillot de Biak - Phylloscopus misoriensis. Kata bahasa Biak yang di serap ke dalam bahasa ilmiah nama burung : 1. Misoriensis (Mios Ori/Byak) dan 2. Maforensis (Mafor/Numfor). 

Para peneliti burung, menamakannya sesuai nama pulau Biak dan pulau Numfor, yaitu Pouillot de Biak - Phylloscopus misoriensis atau disebut Biak Leaf Warbler dan Island Leaf Warbler Phylloscopus maforensis. 

Salah satu pemerhati budaya suku Biak, Bapak Malex Kmur menjelaskan filosofi dari burung Manesu. 

"Nama MANESU dan Filosofinya
Secara harfiah terdiri kata "man" dan "esu"
1 Frasa: Man esu (man = burung; esu = beri)
Manesu bermakna: Tahu Memberi
1. Memberi tidak memusingkan kekurangan
2. Merasa damai ketika memberi
3. Memberi dengan kegirangan

Makna dan filosofi diatas bisa menjadi pelajaran berharga yang bisa dipetik yaitu meniru dari burung Manesu dengan memberi dengan kegirangan kepada sesama manusia. 

Dalam teks terjemahan Alkitab bahasa Biak (LAI) Perjanjian Baru, terjemahan ini menggunakan sebutan "MANESU". Para penerjemah menggunakan istilah "Manesu" dalam terjemahan mereka, alasannya mungkin karena karena nama "manesu" ini cukup terkenal.  

Matius 10:29-31: "Mkofawi ḇake manesu risuru sḇoḇ su kuker maeja ropia oser? Rariryano osero ro man mkun ansi ipok imar famfnomḇa rofyor Mami ro Boiyaswa Imarisenḇa. Ma mko kako snonburyam mkoḇena naser karkor epen. Inja mkomkak awer snar mkoḇe maeja syadi ro manesu ḇeḇor".

Catatan mengenai burung ini telah ditulis oleh zendeling J.L. dan F.J. F. Van Hasselt, yang dimuat dalam Noemfoorsch Woordenboek (kamus bahasa Numfor-Belanda) yang diterbitkan oleh N.V. Drukkerijen Uitgeverij J. H. de Bussy, Amsterdam, 1947. 

Halaman 140 pada buku Kamus Numfor-Belada, karangan J.L & F.J. F Van Hasselt, menyebut "Mangarpis" dalam bahasa Numfor, dalam bahasa Belanda disebut Honigzuigertje (Cinnyris sericeus) atau yang berarti burung pengisap madu. Cinnyris sericeus paling sering muncul untuk varietas kuning dengan tenggorokan biru dan juga biru tua. Di Numfor dan mungkin di tempat lain ada seekor burung (kuning kusam dengan dada merah muda), yang juga disebut mangarpis dan sangat mirip dengannya, tetapi Dicaeumnya adalah Geelvinkianum. 

Burung Manesu, sering menjadi incaran anak-anak di pulau Biak dan Numfor, mereka sering berburu burung ini bersama teman-teman menggunakan kartafel. Burung tersebut menjadi santapan empuk yang dibakar oleh anak-anak kecil, sambil dinikmati bersama dengan kasbi, keladi, petatas dan nasi. 

Daging Manesu, meskipun kecil namun empuk dan sedap rasanya. Burung ini meskipun kecil namun bisa di makan bersama oleh anak-anak yang berburu. Ini memang santapan anak-anak, bagi orang dewasa, burung ini tidak disukai, untuk konsumsi. Ya, memang, kebahagiaan dan kebersamaan tidak selalu diukur oleh santapan daging yang mewah-mewah, dengan makanan seadanya, kebersamaan bisa terjalin. 

Burung ini merupakan salah satu burung endemik Papua khususnya di pulau Biak dan Numfor. Burung ini bisa dapat dijumpai sehari-hari dan menjadi salah satu famankor (hiasan) di tanah Sup Byak. Keelokan burung ini mungkin tidak terkenal seperti burung-burung lainnya di Papua, namun burung ini menjadi penghias pulau Papua selain banyaknya berbagai jenis burung lain di Papua. 

Halaman 140 pada buku Kamus Numfor-Belada, karangan J.L & F.J. F Van Hasselt, menyebut "Mangarpis" dalam bahasa Numfor, dalam bahasa Belanda disebut Honigzuigertje (Cinnyris sericeus) atau yang berarti burung pengisap madu. Cinnyris sericeus paling sering muncul untuk varietas kuning dengan tenggorokan biru dan juga biru tua. Di Numfor dan mungkin di tempat lain ada seekor burung (kuning kusam dengan dada merah muda), yang juga disebut mangarpis dan sangat mirip dengannya, tetapi Dicaeumnya adalah Geelvinkianum. 

Burung Manesu, sering menjadi incaran anak-anak di pulau Biak dan Numfor, mereka sering berburu burung ini bersama teman-teman menggunakan kartafel. Burung tersebut menjadi santapan empuk yang dibakar oleh anak-anak kecil, sambil dinikmati bersama dengan kasbi, keladi, petatas dan nasi. 

Daging Manesu, meskipun kecil namun empuk dan sedap rasanya. Burung ini meskipun kecil namun bisa di makan bersama oleh anak-anak yang berburu. Ini memang santapan anak-anak, bagi orang dewasa, burung ini tidak disukai, untuk konsumsi. Ya, memang, kebahagiaan dan kebersamaan tidak selalu diukur oleh santapan daging yang mewah-mewah, dengan makanan seadanya, kebersamaan bisa terjalin. 

Burung ini merupakan salah satu burung endemik Papua khususnya di pulau Biak dan Numfor. Burung ini bisa dapat dijumpai sehari-hari dan menjadi salah satu famankor (hiasan) di tanah Sup Byak. Keelokan burung ini mungkin tidak terkenal seperti burung-burung lainnya di Papua, namun burung ini menjadi penghias pulau Papua selain banyaknya berbagai jenis burung lain di Papua. 

Posting Komentar untuk "Manesu Burung Pipit "