Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Manbibi Burung Hantu

    

burung Hantu (Otus beccarii)
© Rob Hutchinson

Foto ini di unduh melalui situs https://www.owlpages.com. Terlihat sebuah burung Manbibi di malam hari di atas ranting pohon. Dengan sorotan matanya yang tajam, dan warna bulunya khas memperlihatkan bahwa burung memiliki keindahan tersendiri dari burung-burung lainnya.


MANBIBI, SANG BURUNG MALAM

Dalam bahasa ilmiahnnya burung hantu disebut Biak Scops Owl (Otus beccarii), yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai Celepuk Biak. Seperti pada foto diatas merupakan burung Hantu yang di potret di pulau Biak pada Juli 2016 oleh Rob Hutchinson. Orang Biak-Numfor mengenalnya dengan nama MANBIBI. 

Secara etimologi nama Manbibi (dibaca Mambibi) terdiri dari dua suku kata yakni MAN dan BIBI. Man berarti burung sedangkan Bibi tidak diketahui arti tersebut. Dalam pelafalan orang Biak sehari-hari mereka mengucapkannya Mambibi. 

Burung jenis otus beccarii atau Manbibi ini merupakan salah satu burung endemik kepulauan Biak-Numfor di wilayah teluk Saireri atau teluk Cenderawasih, Papua. Pada malam hari, burung ini sering duduk diatas ranting kayu. Orang Biak baik di pulau Biak, Supiori dan pulau Numfor sangat mengenal burung ini. Karena burung ini bisa dijumpai setiap saat pada malam hari.

Sudah sejak lama orang Biak-Numfor mengenalnya dengan sebutan Manbibi dalam bahasa Biak. Dalam bahasa sehari-hari Melayu Papua biasanya disebut burung Swanggi, bahasa Indonesia maupun Melayu menyebutnya burung Hantu. Suaranya yang khas dan kehidupan malamnya membuat burung ini memiliki keunikan tersendiri (nokturnal). Pulau Numfor juga banyak terdapat burung Manbibi (Mambibi) dengan jenis podargidae papuensis.  

Menurut penelitian yang dilakukan burung terdapat sekitar 200-an spesies di seluruh dunia, termasuk di Papua dimana terdapat beberapa jenis Manbibi. 

Manbibi sebenarnya telah diteliti sejak tahun 1800-an, oleh para peneliti Eropa, misalnya Quoy dan Gaimard, tahun 1830, juga Odoardo Beccari (1843-1920) yang merupakan penjelajah dan ahli botani asal Italia. Pada 1875, Beccari mengunjungi Doreri Manokwari, Biak dan Supiori. Tidak heran jika burung Manbibi dalam bahasa ilmanya menggunakan nama Beccarii. 

DIGUNAKAN JUGA SEBAGAI NAMA ORANG 

Nama Manbibi ini tidak saja digunakan untuk menyebut jenis burung tersebut. Dalam kehidupan orang Biak, nama ini juga digunakan sebagai nama bagi seorang pria Biak di zaman dulu. 

Seorang Manbri Biak yang dulu melakukan pelayaran dari kampung Yendoker, Supiori  ke kepulauan Raja Ampat, hingga tiba di pulau Waigeo menggunakan nama burung Hantu. Namanya adalah Mambibi Saleo, kerap disebut Mansar Mambibi SalĂ©o. Turunannya mengabadikan patung Mambibi Saleo (Simon Kooijman, 1983). Ini salah satu contoh penggunaan nama "Mambibi" yang digunakan juga oleh orang Biak di masa lalu. Biasanya, dia dinamakan demikian karena kemampuannya di malam hari, entah pada waktu berlayar di malam hari, berburu, atau berperang.  

Manusia Biak, sering dijuluki atau diibaratkan seperti perilaku burung-burung, tak jarang banyak terdapat dalam syair lagu, puisi, legenda, mitos, bahkan nama orang, nama tempat, nama pulau ungkapan-ungkapan dalam bahasa Biak menggunakan nama hewan (burung). Penggunaan nama burung terhadap penamaan manusia membuktikan bahwa burung merupakan salah satu hewan yang memiliki keistimewaan khusus dalam kehidupan sosial suku Biak, dan secara umum orang Papua. 

Tradisi dan kebudayaan orang Papua, sangat melekat dengan penggunaan burung-burung. Pola-pola hias yang menawan, baik contur warna, ciri khas, dari seekor burung menjadi bagian dalam fenomena kebudayaan orang Papua. Sebut saja, cenderawasih menjadi simbol kecantikan dan keindahan wanita dan lelaki Papua. 

Alangkah indahnya jika burung-burung terus dijaga dan dilindungi agar di masa depan tidak punah. Jika habitat burung ini terjaga, dan terlindungi di masa depan generasi mendatang masih bisa melihat dan mengenalnya.  

Posting Komentar untuk "Manbibi Burung Hantu"