Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Tentara Inggris Asal India Menjadi Tawanan Orang Papua

 

Ilustrasi gambar Tentara Inggris asal Benggali India tahun 1785.
Sumber: https://collection.nam.ac.uk/

Tahukah Anda bahwa di abad ke-18 pernah terjadi sebuah peristiwa memiluhkan di tanah Papua, tepatnya di Manokwari, Papua Barat.  Peristiwa yang melibatkan pertemuan antara Tentara Inggris dan Orang Papua dalam perdagangan yang damai berujung malapetaka. Kisah ini dimulai pada tahun 1793. Datanglah sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Sir John Hayes alias Kapten Dee yang merupakan seorang perwira angkatan laut Inggris. Pelayaran ekspedisi ini bertolak dari Bengal, India menuju Papua menggunakan dua kapal kompeni Inggris, The Duke dan The Duchess of Clarence pada bulan Januari 1793. Menurut laporan lain bahwa hanya satu kapal saja yaitu Duke yang berangkat ke Papua kemudian di susul kapal lain The Duchess. 


Kapten John Hayes (1768-1831)


Di kutip dari buku “Nederlandsch Nieuw Guinea en De Papoesche Eilanden Historische Bijdrage 1500 – 1883 (1884)”, karangan A. Haga disebutkan: Rombongan ini terdiri dari kapten kapal, 4 orang jurumudi dan 40 pelaut mereka semua adalah orang Inggris. Sebuah detasemen yang terdiri dari 3 bintara Inggris dan 60 tentara Benggali, dipimpin oleh kapten Kout (Court). Ekpedisi ini dilengkapi juga dengan persenjataan yang terdiri dari 20 meriam 8 dan 10 6 pon. Tidak ada muatan lain yang dibawa selain bekal mereka selama perjalanan.

Sekitar 8 bulan perjalanan akhirnya rombongan ekspedisi pun  tiba dengan selamat di teluk Doreri. Kolonel Haga mencatat bahwa rombongan ini masuk “Di tepi pantai dimana terdapat dataran kecil yang dibatasi pegunungan tinggi yang dilalui sungai indah dan ditemukan empat rumah warga Papua.”  (A. Haga, 1884:337)

Dr. F. C. Kamma lebih memperjelas tempat tinggal mereka yakni  “orang-orang Inggris membangun benteng kecil, dekat pantai teluk Doreh, di sebelah barat anak sungai War Kabari, di sebelah timur desa Kwawi.” Mereka disambut dengan hangat oleh masyarakat Doreh. Kapten Hayes menamai teluk Doreri  dengan nama “Restaurationsi Bay” atau Teluk Pemulihan, mungkin ini mengingatkan dia pada perjalanan mereka yang mengalami rintangan sampai akhirnya tiba di teluk Doreri dengan selamat.  

Mereka harus memulai hari kerja mereka dengan membangun komunikasi dengan penduduk Doreh. Sordadu Inggris ini mulai membangun pagar kayu  dan segera mendirikan rumah-rumah mereka dari kayu dan atap sederhana. Akhirnya mereka mendirikan benteng yang dinamai “Fort Coronation”. Sepertinya mereka bakal aman tinggal di rumah baru mereka. 

“Benteng Fort Coronation,…ditempati oleh 15 sampai 20 orang tentara Bengala (India)”, Tulis F. C. Kamma dalam Ajaib di Mata Kita (1981), hal. 85. 

Keramahan penduduk setempat, pemandangan teluk Doreri yang indah, pulau Mananswari dan Nusmapi yang permai pasti begitu memanjakan mata para tentara yang jauh dari negeri asal mereka. Belum lagi, Insos-insos Doreri yang manis, imut dan cantik pasti menambah indahnya pemandangan teluk Doreri. Masyarakat membawa kulit kayu masoi, penyu, kacang, keladi, petatas, serta beberapa barang dagang lainnya. 

Tak butuh waktu lama, para prajurit Inggris tersebut mulai melakukan perdagangan barter dengan masyarakat setempat selama beberapa bulan di sana. ’Setelah tinggal di Dorei sekitar tiga bulan, Hayes berangkat ke Bengal menggunakan kapal Duke dengan membawa muatan massooi, tripang, burung cendrawasih, dll., untuk menjemput wanita dan anak-anak garnisun dari sana’. Catat Haga. 

Dengan berangkatnya Kapten John Hayes dan beberapa kru kapal, mereka meninggalkan pelabuhan Doreri menuju India. Sedangkan Kapten Court dan dua rekan Eropanya bersama 20 orang India tetap tinggal di Manokwari untuk menjaga benteng sembari melakukan perdagangan kecil-kecilan dengan penduduk di sana. Awalnya perdagangan ini berjalan baik, namun ada hal buruk yang dilakukan oleh para tentara India tersebut yang melanggar adat istiadat masyarakat setempat sehingga menimbulkan api permusuhan. Nah, apa masalahnya? 

“Prajurit-prajurit penghuni benteng telah mandi bertelanjang bulat di laut tanpa menghiraukan kehadiran wanita Numfor yang ada di situ. Ini dianggap sebagai hinaan yang besar.” Tulis F. C. Kamma. 

Ketidaksopanan para tentara India itu membuat orang Papua murka. Di sinilah muncul sebuah rencana rahasia dari para Manbri Doreri. Orang Numfor Doreri mencari waktu yang tepat untuk menghabisi para prajurit India yang tak tahu sopan satun itu. Dan, benar saja ketika “beberapa hari setelah berangkatnya kapal mereka, sebagian rombongan itu diserang oleh orang-orang Irian, dibawa sebagai budak dan kemudian dijual di Seram”. Tulis Kamma. 

Dua Pria Papua asal Doreri


Orang Papua menjadikan para sordadu India termasuk dua orang Eropa tersebut budak yang kemudian dijual ke Seram dan ditebus di Banda.  Rencana awal dan mimpi besar mereka untuk menetap di Manokwari lebih lama malah harus sirna, benteng tersebut dihancurkan pada bulan Aril 1795 dan tidak meninggalkan bekas. 

Dari kisah sejarah ini kita belajar bahwa ketika kita tinggal di tanah orang, pentingnya menghormati dan menghargai adat istiadat setempat dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa berakibat fatal bagi diri kita. 

Posting Komentar untuk "Ketika Tentara Inggris Asal India Menjadi Tawanan Orang Papua "