Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nama-Nama Kerang dalam Bahasa Biak

 

Kerang
Royam (kerang) di laut Manduser, 2024. Photo by Ram

ROYAM 

Orang Biak Numfor sejak lama mengenal berbagai tumbuhan, hewan, biota laut dalam bahasa lokal  yakni bahasa Biak. Misalnya, nama-nama ikan dalam bahasa Biak maupun biota laut lainnya. Suku Biak memiliki pengetahuan tradisional tentang alam tempat mereka tinggal, mereka mampu menyebut berbagai binatang dengan nama-nama setiap makluk hidup dalam bahasa Biak. Dunia laut sarat dengan keanekaragaman hayati yakni berbagai macam biota laut yang sangat unik mulai dari ikan, terumbuh karang, rumput laut sampai makluk laut lainnya.  

Pada artikel ini kita akan belajar nama-nama kerang (bia) dalam bahasa Biak. Dalam bahasa Biak, kerang disebut Royam (Ram) dalam bahasa Melayu Papua disebut bia. Royam Bei berarti kulit kerang atau tempat kerang hidup. Bei merupakan rumah bagi kerang. Khususnya nama-nama ikan dalam bahasa Biak sudah banyak ditulis dan di data, sedangkan khusus mengenai jenis-jenis kerang dalam bahasa Biak, belum banyak ditulis atau di data. Orang Eropa pertama yang mendokumentasikan nama-nama kerang dalam bahasa Biak adalah J. L. Van Hasselt dan F. J. F. Van Hasselt, dua penulis Bapak dan Anak ini punya konstribusi besar dalam pendokumentasian budaya dan tradisi Byak. J. L. van Hasselt dalam bukunya "Hollandsch-Noemfoorsch en Noemfoorsch-Hollandsch Woorden Boek (1876, 1893). Van Hasselt mencatat nama "Rojaim" dalam dialek Numfor yang artinya kerang (bia). Dialek Biak lain menyebutnya "Royam", royam dan rojaim memiliki pengertian yang sama.  "Rojaim been kerroe" (Royam ben keru): cangkang mati. 

   

Royam yang sudah direbus

POTENSI EKONOMI KERANG

Royam merupakan salah satu makanan khas suku Biak pada zaman dulu hingga masa kini, kerang masih dijual di pasar-pasar. Pada masa lalu, kerang memiliki nilai yang sangat tinggi, seperti kerang yang dibuat menjadi gelang Samfar sebagai alat tukar perekonomian di masa lampau oleh suku Biak, dan beberapa suku di teluk Cenderawasih. Salah satu pasar di pulau Biak yang paling banyak menjual bia (royam) adalah pasar Bosnik. Masyarakat kepulauan Padaido setiap hari pasar akan datang dari kepulauan Padaido dan menjual hasil dagangan mereka berupa ikan, kerang dan komoditi lainnya di pasar tradisional Bosnik. Biak kerang yang sudah diasar (asap), yang sudah direbus maupun yang masih mentah.  Harga perpiring kerang sekitar 20-50 ribu rupiah. 

Pada masa pemerintahan Belanda di Biak, di pasar Bosnik menjadi salah satu tempat perdagangan komoditi hasil laut seperti kerang kadwor (lola), snamburin, dan sadwoi jenis-jenis kerang laut degan harga f1.50 gulden. Menurut catatan perdagangan Belanda, "nilai ekspor di kepulauan Biak per tahun kurang lebih sebesar 35.000 yang terdiri dari damar, tripang dan kerang. Dan setiap tahunnya perdagangan meningkat pesat". 

Dalam dunia seni ukir masyarakat Biak Numfor, kerang memiliki peranan penting dalam tradisi mengukir sebab ada motif-motif ukiran khas Biak yang diambil dari bentuk atau model kerang maupun biota laut lainnya. Selain itu, kerang juga digunakan sebagai alat musik tradisional maupun bunyi alarm tradisional seperti Kbur dan Amyai sejenis kerang yang dibisa ditiup. 

Royam sudah dibumbui 

Penulis merasa penting untuk mendata dan melakukan penelitian tentang jenis-jenis kerang atau bia dalam bahasa Biak. Mengapa ini penting? sebab di masa kini pengetahuan lokal tentang nama-nama kerang minim diketahui oleh generasi abad ke-21. Untuk itu penulis perlu mengangkat tulisan ini sebagai pengetahuan tambahan untuk dipelajari bersama. Penulis juga berharap untuk mendapat info-info lain dari teman-teman yang berasal dari suku Biak untuk bisa berbagi pengetahuan tentang dunia laut khususnya tentang nama-nama kerang dalam bahasa Biak dari wilayah atau dialek lain.   

JENIS-JENIS KERANG DALAM BAHASA BIAK

Berikut nama-nama bia kerang dalam bahasa Biak yang penulis kumpulkan di kampung Bindusi (Bosnik), Kamus Numfor Belanda (1947), dan beberapa sumber lisan lainnya. Perlu diingat bahwa suku Biak terdiri dari beragam dialek sehingga ada penyebutan-penyebutan dari wilayah lain di kepulauan Biak Numfor maupun migran suku Biak di pesisir Papua lainnya:

1. Mansi, 2. Kibires (Kabires), 3. Kadwor, 4. Karndan (Kakawai), 5. Paru, 6. Paru Sabadaderi, 7. Asosh, 8. Mansanem (Bia mata bulan), 9. Manpurakwane, 10. Kbur, 11. Amyai, 12. Inggobosen, 13. Sapubei, 14. Sanon, 15. Korkor, 16. Kane (Kampam), 17. Inggarndin, 18. Impurem, 19. Sadwoi, 20. Sabu, 21. Kaniwer, 22. Inuben, 22. Insus, 23. Kamer, 24. Mawark, 26. Insef, 27. Snamburin, dan jenis  kerang lainnya. 

Ab, abasker, adusener, adwor, aniwer, aniwer serbaim, apruk, armamyer, arso, asos, awaksir, awuber, borongo, imberis, inar, indefak, inesem, ingin, inporem, insambrom, insanem, insusbok, inse, insefin, kade, kayen, kan, kandei papur, kangombe, karembobo, karepara, kimimip, kongon, kubur, kurada, kubur kandeipapu, mampasswabor, mandaris, mangkardin, manswaprum, manswan, manswan sinan, masi, nopnir, paru, purpur, roibeyiwer, towisan, wam, wer, wer kiwir.  

Daftar nama-nama kerang dalam bahasa Biak di atas mungkin belum lengkap sepenuhnya. Namun, ini bisa menjadi acuan untuk menggali lebih dalam lagi nama-nama yang belum dimasukan. Kemudian, mencari tahu tradisi-tradisi jaman dulu yang berkaitan erat dengan kerang sebab dalam budaya Biak kerang juga menjadi salah satu bagian penting dari perkembangan seni ukiran Biak Numfor. Pengetahuan lokal masyarakat Biak ini memang patut diangkat jempol sebab di jaman dulu, mereka menggunakan pengetahuan mereka untuk mempelajari biota laut yang bisa dimanfaatkan dalam melangsungkan kehidupan mereka. 

CATATAN: Jika, teman-teman mungkin membaca dan ada beberapa sebutan dalam bahasa Biak dari wilayah tertentu silahkan memberi komentar agar artikel ini bisa diupdate dan menjadi pengetahuan bersama. Kasumasa!

Posting Komentar untuk "Nama-Nama Kerang dalam Bahasa Biak"